Arsip untuk Never Eat Alone

Habitat BaRu

Posted in Uncategorized with tags , , , , on Mei 13, 2011 by Perempuan bodoh

Lama yaa saya ga nengokin pondokkecil, gilaa… sampe lumutan giniiee *comot karung, nyampah lagi* (lho?!)

Okey, pagi ini sambil nikmatin sinar matahari yang menerobos jendela kamar ‘satu malam’ saya, The Park Lane 1223, saya mao pengakuan dosa bahwa memang beberapa waktu kemarin, saya sedang sibuk dengan yang namanya “menata hidup”. Dan sebagai Perempuan Bodoh, rasanya saya perlu lebih serius agar ngga terlalu tampak ‘bodoh’ bukan?

Hidup itu seperti air.  Mengalir.  Kita ga pernah taw apa yang akan terjadi dengan air. Apakah dy akan terjun?  Apakah dy akan panas ‘n mendidih? Apakah dy akan dingin ‘n beku? Apakah dy akan tercemar ‘n baw? #diskripsi yang sama untuk sebuah perasaan. Juga hubungan. Versi saya, tentunya. Dan menurut saya, selayaknya kita selalu berusaha menjaga air agar tetap bersih… ‘n hangat.

Sapa sehh yang ga suka aer angett? *sambil ngebayangin susu anget, brendem dalam kolam anget, di peluk sama cowo ganteng yang… anget* Ouuppppss, keceplosan *langsung tutup mulut*

Yeahhh, tapi itulah sebagian diskripsi tentang hangat -yang lebih baik- gausah kamu protes:) Dan kalo kamu pernah baca satu buku yang di tulis oleh salah satu cowo keren ‘pliss jangan cemburu saat saya sebut namanya’, yaitu Keith Ferrazzi dengan judul “Never Eat Alone”, pasti kamu akan menjadi seperti saya yang bener-bener sangat bersyukur memiliki banyak temen yang begitu peduli dan saya sangat menyayangi mereka. Menurut Margaret Wheatley (temennya si Keith kexnya), “Relationships are all there is. Everything in the universe only exists because it is in relationship to everything else. Nothing exists in isolation. We have to stop pretending we are individuals that can go it alone”   Dan saya setuju.

Jangan tanya kenapa yaa… tapi mumpung saya lagi pingin cerita, kaseh kesempatan lahhh si Perempuan Bodoh ini untuk ngoceh-ngoceh dikit, ‘n pliss dehh gausahh segitunya kalian pura-pura menutup telinga 🙂

Yups, Hubungan memang ada d mana-mana ‘n memang sama sekali ngga guna buanget kalo kita musti pura-pura ngga butuh sapa-sapa. Saya percaya, sehebat apapun seseorang, jika dy tidak merasa membutuhkan orang lain, maka dy akan punya tanggal kadaluarsa. Begitu juga sebaliknya. Maseh inget kan sama pepatah yang ngomong, “diatas langit maseh ada langit.” Jadi ga guna juga kalo kamu merasa setinggi langit, bukan? Atow… gimana caranya kamu bisa setinggi langit kalo kamu sendirian?

Artinya, dalam hidup kita memang harus ada orang lain. Kontexs yang saya maksud adalah simbiosis mutualisme lho, bukan parasit. Malah kalo kata Keith, “don’t keep score”. Jangan peritungan tentang apa yang kamu berikan ke orang lain. Berbuat baik itu ibarat menamam pohon apel. Kelak kamu akan memetik buahnya. Oya, dalam menamam (mungkin kamu seperti saya yang belom pernah bercocok tanam), harus ada yang namanya pemberian pupuk. Jaga hubungan baik. Bukan sekedar kuantitas, tapi juga kwalitas. Intinya harus tulus. Orang akan mengingat orang yang mengingatnya. Orang akan benci jika dy d benci. Orang akan sayang kalo orang itu menyanyanginya juga.  it’s human nature.  Jangan pernah dehh berfikir bahwa sekali kamu melempar biji trus berharap bisa makan apel manis. Semua itu ada prosesnya. Dan nikmatilah proses itu. Belajar banyak dari orang lain, karena saya percaya bahwa setiap manusia memang terlahir unik. Setiap manusia, mempunyai kelebihannya sendiri-sendiri yang dapat kita serap untuk kita pelajari 🙂

Ini memasuki bulan ke-2 dalam habitat saya yang baru. Tentu saja maseh perlu banyak adaptasi. Tapi so far saya suka sekali. Banyak yang harus di pelajari, banyak yang harus di bagi. Rasanya hidup ini beneran hidup ‘n semakin hidup. Doakan saya yaaa…

( Adeika, 130511 )

Iklan