Bicara tentang ekspektasi.

Malam minggu, sendirian,

Setelah menyeruput cappucinnonya dengan mesra, perempuan bodoh membongkar isi tasnya, dan menemukan dua sobekan tiket XXI. “Halahhh… ini sampah tiga bulanan kemaren yang blom sempet kebuang”.  Dan perempuan bodoh pun tersenyum. Cuilan tiket itu menceritakan bahwa pernah disatu malam dibulan November 2009, dia pergi nonton 2012 dengan si sosok maya. Film yang dalam bayangannya begitu mengerikan, sampai-sampai ada fatwa yang mengharamkan menonton film tersebut. Padahal hampir semua bioskop di Jakarta memutar film tersebut dilebih dari satu studio, dengan antrian pembelian tiket yang luar biasa panjangnya. Hmm… mungkin perempuan bodoh memang beneran bodoh kalee yaa, karena “nyatanya” dia kecewa dengan ekspektasinya. Jujurnya dia merasa capek nonton film tersebut, karena isinya ngga lebih dari taburan bencana alam, dengan potongan-potongan yang tidak masuk akal, tapi ngga juga membuatnya tersentuh. Tsunami Aceh jauh lebih mengerikan dan menyedihkan dari itu.

Dan bicara tentang ekspektasi, kemarinnya perempuan bodoh membaca tulisan tentang manajemen ekspektasi dan pemikiran gradasi. Dalam tulisannya dijelaskan bahwa dalam kehidupan itu ada dua hal yang berbeda, yaitu “seswatu yang seharusnya terjadi“ dan “seswatu yang sebenarnya terjadi“. Kedua hal tersebut mendukung pernyataan perempuan bodoh bahwa memang tidak semua yang dia suka bisa dia dapat. Kekecewaan yang timbul, air mata yang mengalir, stress yang hadir, itu lebih kearah karena (terkadang) ada kesenjangan antara “seswatu yang sebenarnya terjadi“ dengan “seswatu yang seharusnya terjadi“.

Ekspektasi membuat frustasi.

 Ada kalanya kita harus berdamai dengan ekspektasi sendiri, kenapa?

Karena ekspektasi yang berlebihan tanpa mempertimbangkan banyak faktor, akan menjadikan bumerang dan menyudutkanmu pada satu titik ketidakbahagiaan. Untuk yang satu ini, perempuan bodoh belajar banyak dari si sosok maya. Sebelumnya perempuan bodoh cenderung perfectionist dan egois. Dia menargetkan banyak hal dalam hidupnya dan berharap orang-orang disekelilingnya dapat berjalan seirama dengan dia. Dalam banyak hal, targetnya memang terwujud, tetapi mengharapkan bahwa setiap orang dapat berjalan seirama, itu berlebihan. Akibatnya perempuan bodoh sering sewot dan uring-uringan sendiri. “Belajarlah untuk bisa menikmati hidup, sayang… jika sesekali ekspektasimu tidak tercapai, belajarlah melihat dari kacamata yang berbeda.” Itu selalu yang si sosok maya bisikan.

Si sosok maya memang terlihat terlukis istimewa. Dia selalu mempunyai (ato menciptakan?) irama tersendiri untuk hidupnya. Baginya ekspektasi tidak terbatas, dan dia selalu mempunyai banyak tangga jika tangga yang satunya tidak cukup kuat untuk menyangga berat dalam menapaki angan-angannya.

Satu senja di Grand Indonesia, duduk dipojokan sambil mengamati lomba putri-putrian anak-anak ala cinderela. Saat itu perempuan bodoh maseh kecewa dengan nilai ujiannya. Si sosok maya pelan berkata, “Menurutmu, si rambut panjang itu bajunya warna apa?”

“Kuning”

“Menurutku warnanya orange” seraya memasangkan kacamata merah noraknya kemata perempuan bodoh.

“Haha… kamu curang” cubit perempuan bodoh dengan manja.

Si sosok maya pun tersenyum, “Disitu pointnya sayang. Kamu bisa saja melihat sesuatu yang sama dengan hasil yang berbeda. Itulah cara mudah menikmati hidup. Saat seswatu yang sebenarnya terjadi bertolak belakang dengan seswatu yang seharusnya terjadi, dalam artian ekspektasimu ngga kesampean, mulailah melihat hal itu bukan sebagai suatu musibah. Ambil hal-hal yang baik yang bisa diambil dan ciptakan nuansa lain didalamnya. Berdamailah dengan ekspektasi sendiri.“

“Hmmm…“ Perempuan bodoh manggut-manggut bodoh.

“Intinya sayang, sesempurna apapun suatu rencana, jangan pernah hanya berfokus pada satu rencana. Kekecewaan yang timbul akibat dari ekspektasi yang berlebihan itu jauh lebih sakit dibandingkan jika kita sudah mempersiapkan langkah lain seandainya langkah pertamamu gagal dan jangan juga berharap lebih dari orang-orang di sekitar kita, karena masing-masing dari kita mempunyai kepala yang berbeda“

( Adeika, 200210 )

Iklan

2 Tanggapan to “Bicara tentang ekspektasi.”

  1. Pertamax, d rumah sendiri, hihi…:)

  2. berharap lebih dari apa yang kamu pikirkan…yang hilang tak terjadi jangan dibayangkan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: